Wajah Baru Anak-Anak Revolusi Juni 16, 2008
Posted by gunturac in Tajuk.add a comment

JudulBuku: Karnak Cafe
Penulis: Naguib Mahfouz
Penerbit: Alvabet, Jakarta
Cetakan: I, Februari 2008
Tebal: 166 Halaman
Kairo, 30 Agustus 2006, lelaki ringkih 95 tahun mengembuskan napas penghabisan. Mesir berkabung, dan para penggemar novel di seluruh dunia berduka atas wafatnya Naguib Mahfouz, pemenang Nobel Sastra 1988 itu. Sepanjang riwayat kepengarangannya, ia sudah menulis tidak kurang dari 40 novel dan ratusan cerita pendek. Penulis The Cairo Trilogy (Bayn Qasrayn,1956, Qasr al Shawq, 1957 dan As Sukkariyya, 1957) itu tak luput dari kontroversi. Pada 1994, seseorang menghunuskan belati di lehernya tatkala ia sedang dalam perjalanan menuju pertemuan mingguan dengan rekan-rekan sesama pengarang di sebuah kafe di Kairo. Naguib Mahfouz luka parah, saraf tangan kanannya terganggu.
Serangan itu sebentuk harga yang mesti dibayar Naguib Mahfouz lantaran novelnya Aulad Haratyna (1962) yang dituding sesat. Ceritanya berkisar di Kairo masa silam dengan tokoh utama, Gabalawi. Banyak yang menganggap tokoh ayah dalam novel yang semula dimuat bersambung di harian Al Ahram itu sebagai alegori bahwa Tuhan lebih sayang pada Adham (Nabi Adam) dibanding pada Gabal (Musa), Rifa’a (Isa Almasih) dan Qasim (Muhammad SAW). Karena itu, Naguib Mahfouz dituding atheis. Seorang ulama garis keras Mesir mengeluarkan pernyataan: jika Naguib Mahfouz tidak menulis Awlad Haratyna, barangkali Salman Rushdie tidak akan menulis The Satanic Verses yang menggemparkan itu.
Tidak sukar menemukan novel-novel Naguib Mahfouz dalam edisi Indonesia. Misalnya Awal dan Akhir (2001), Lorong Midaq (1996), Pengemis (1997), Tragedi di Puncak Bukit (2000), dan lain-lain. Novel berjudul Karnak Cafe (2008) ini merupakan karya Naguib Mahfouz paling anyar dalam edisi terjemahan Indonesia. Edisi Arabnya (Al Karnak) terbit pertama kali di Kairo, 1974. Sementara edisi Inggrisnya terbit pada 2007 untuk mengenang satu tahun kematian Naguib Mahfouz. Dalam sebuah sesi wawancara, sebagaimana dicatat Nadine Gordimer (1995), Naguib Mahfouz pernah ditanya perihal tema apa yang paling dekat di hati Anda? Novelis itu menjawab, ”Kebebasan. Ya, kekebasan dari penjajahan, dari kepemimpinan absolut raja-raja, dan kebebasan dalam konteks masyarakat dan keluarga. Dalam Trilogi saya, misalnya, setelah revolusi membawa kebebasan politik, keluarga Abdul Jawad menuntut kebebasan yang lebih dari dirinya.”
Tapi, berbeda dengan novel-novel Naguib Mahfouz sebelumnya, Karnak Cafe justru menggambarkan pandangan pesimistik terhadap isu kebebasan dan demokrasi yang menyeruak pasca-revolusi 1952. Trauma kekalahan Mesir dari Israel pada perang Juni 1967 menjadi mainstream novel ini. Kafe Karnak sebagai poros dari keseluruhan kisah buku ini bukan kafe biasa, tapi sebuah wadah tempat berkumpulnya ”anak-anak revolusi” yang kecewa akibat perang enam hari yang membawa Mesir terpuruk pada fase kemunduran, jauh sebelum revolusi 1952 (terbebasnya Mesir dari absolutisme kerajaan) terjadi. Di dunia Arab, malapetaka Juni 1967 itu biasa disebut dengan al naksa (kemerosotan).
Periode kekalutan ini bermula dari pengunduran diri Presiden Gamal Abdul Nasser, figur utama yang tak tergoyahkan. Tak lama berselang, pada 1970 ia meninggal dalam sebuah serangan setelah berpidato di hadapan para pemimpin Arab yang tengah berkumpul di Kairo. Penggantinya Anwar Sadat, wakil presiden waktu itu. Banyak darah tertumpah di bawah jembatan Mesir sejak Sadat dikukuhkan menjadi presiden. Para ekstrimis agama, politisi, dan intelektual kiri dibersihkan. Para penyetia Revolusi 1952 seperti Hilmi Hamada, Ismail Syeikh, dan Zaenab Diyab, tokoh-tokoh imajiner dalam Karnak Cafe tidak lagi bisa menghirup udara kebebasan.
Hilmi Hamada, pengunjung setia kafe itu berkali-kali dipenjara, dituduh sebagai pengkhianat revolusi hanya karena gagasan politiknya berhaluan sosialisme. Lelaki tambatan hati Qurunfula (mantan artis kondang Mesir, pemilik Kafe Karnak) itu akhirnya mati di penjara, tanpa kejelasan di mana jenazahnya dimakamkan.
Zaenab, aktivis muda, mengalami pencabulan di salah satu ruang interogasi. Ia ditangkap karena punya hubungan khusus dengan Ismail Syeikh yang dituduh sebagai antek Ikhwanul Muslimin, gerakan bawah tanah yang hendak diberangus oleh pemerintahan Sadat.
Qurunfula, daya pikat Kafe Karnak itu sangat terpukul oleh kematian Hilmi Hamada. Namun kesepiannya sedikit terobati oleh kembalinya Ismail dan Zaenab hingga keriuhan senda gurau masih tetap berdengung di Kafe Karnak. Tapi, Ismail ternyata bukan lagi lelaki yang teguh pendirian seperti dulu, bukan pengikut setia revolusi lagi. Ia bebas setelah menerima tawaran untuk menjadi mata-mata guna membekuk para pembelot yang saban malam berkumpul di Kafe Karnak. Begitu juga Zaenab, ia kembali dengan wajah baru sebagai agen rahasia yang tidak segan-segan menjual kehormatannya demi memperoleh informasi perihal para ekstrimis dan para aktivis kiri yang harus disingkirkan.
Tak jelas lagi siapa kawan, siapa lawan. Para pengunjung Kafe Karnak saling curiga, hingga tak ada lagi kenyamanan saat menikmati suguhan kopi seperti dulu. Mereka dalam situasi terancam oleh ”musang-musang berbulu ayam” yang berkeliaran di Kafe Karnak.
Strategi literer pengarang belum bergeser dari realisme usang khas Naguib Mahfouz, dengan satu narator dan sudut pandang tunggal. Selain itu, eksplorasi prosaiknya benar-benar tidak berjarak dari realitas keseharian Naguib Mahfouz. Baik sebelum maupun sesudah memenangkan nobel, Naguib Mahfouz akrab dengan kafe. Mulai Kafe El Feshawi yang bernuansa klasik di kawasan kota tua Kairo, hingga Kafe Riche di seberang Sungai Nil.
Di El Feshawi, ia pelanggan terhormat, setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, ia memesan kopi hitam, menyapa orang-orang di sekitarnya, membaca koran dan menulis. Berbeda dengan El Feshawi, Kaf� Riche terkenal sebagai tempat berkumpulnya pimpinan majelis revolusi dan tokoh-tokoh pergerakan nasional kelas menengah, seiring dengan pulangnya kaum intelektual Mesir dari Prancis. Sejak 1963, di Kafe Riche kerap diselenggarakan ‘’salon sastra Mahfouz” yang dihadiri sastrawan dan budayawan Mesir seperti Gamal el-Gheitani, Amal Danqel, Yahya Tahir Abdullah, Sarwat Abaza, dan lain-lain. ”Jika kamu baca cerita-ceritanya, kamu akan menemukan sejumlah karakter yang diambil dari sejumlah pelanggan kafe ini,” kata pemilik kafe itu seperti dikutip Qaris Tajuddin (2006).
Di kafe ini Naguib Mahfouz memotret pelbagai sisi kegamangan akibat malapetaka Juni 1967, yang tergambar secara benderang dalam novel Karnak Caf�. Tapi, semata-mata merujuk pada peristiwa perang enam hari itu akan mengabaikan kompleksitas persoalan yang tersirat. Sebab, Karnak Cafe bukanlah buku sejarah yang mesti terukur keakuratan konsep historiografinya, tapi teks yang digarap dengan keterampilan artistik dan berhulu pada pencapaian estetika tertentu. Bukankah hubungan ganjil Qurunfula dengan Hilmi Hamada menyuguhkan realitas baru yang terlepas dari ”fakta keras” perang Mesir-Israel 1967? Begitu juga dengan kegilaan Arif Sulaiman, mantan staf ahli Menteri Keuangan Mesir yang tergila-gila pada Qurunfula. Ia menghamburkan-hamburkan uang demi menaklukkan artis kondang itu, hingga akhirnya dipenjara karena kasus korupsi. Setelah bebas, Arif Sulaiman terlunta-lunta, Qurunfula menampungnya sebagai pelayan di Kafe Karnak. ”Ia bukan korbanku, tapi korban dari ketidakberdayaannya sendiri,” kilah Qurunfula. Kalimat yang seolah-olah menjadi bentuk pengamsalan terhadap keterpurukan Mesir masa itu.
www.jawapos.com
Milis Penting buat Anda !!! Juni 16, 2008
Posted by gunturac in Index Berita, Tajuk.add a comment

Persaingan Bisnis semakin ketat, diperlukan strategi jitu untuk dapat memenangkan persaingan. Salah satu modal untuk memenangkan persaingan adalah INFORMASI. Dengan informasi yang akurat, dapat lebih menajamkan strategi dan bentuk komunikasi yang dilakukan.
Guna memenuhi kebutuhan akan informasi terkini tentang dunia pemasaran, Majalah Marketing me-launching milis MC-ers@yahoogroups.com. MC-ers diambil dari singkatan MARKETING COMMUNITY MEMBERS. Milis ini sepenuhnya dikelola oleh Majalah Marketing.
“MC-ers@yahoogroups.com sebagai tempat diskusi para Marketer dan insan-insan yang tertarik terhadap dunia Marketing. Anda dapat Bertanya, Menjawab, Sharing atau hanya sekedar mengikuti perkembangan dan issue-issue seputar Marketing serta Aplikasinya di dunia bisnis.
Jangan sampai Anda ketinggalan informasi yang seharusnya bisa Anda dapatkan dengan mudah.
Majalah Marketing telah menjadi referensi Mahasiswa, Akademisi, Praktisi dan para pengambil keputusan” Ungkap Sukardi Arifin selaku Moderator milis ini.
Anda cukup mengirim email kosong ke MC-ers-Subscribe@yahoogroups.com maka semua informasi dunia pemasaran telah berada didalam genggaman anda.
Mengapa Anda perlu informasi Marketing ?
Siapapun Anda, atau apapun bidang pekerjaan Anda. Anda perlu Marketing. Marketing tidak hanya mengajarkan bagaimana memasarkan produk atau mengembangkan ekuitas merek. Tapi, bagaimana memasarkan “diri”, talenta dan keunggulan pribadi dibanding orang lain.
Diperlukan trik dan strategi untuk dapat bersaing dan unggul dalam segala hal.
Pelamar butuh Marketing (Personal Branding), artis perlu marketing, dokter perlu marketing, orang finance perlu marketing, tukang bakso perlu marketing…. So, ANDA perlu MARKETING !!!
Obat bernama Euro Juni 11, 2008
Posted by gunturac in Tajuk.add a comment
| |
| www.solopos.net
Dunia persepakbolaan dunia kembali bergejolak dengan dimulainya kick off ajang paling bergengsi di Eropa, Euro 2008. |
| Mulai tanggal 7 Juni hingga 29 Juni dipastikan jutaan pasang mata bakal menyaksikan jago-jago sepakbola Benua Biru berjibaku di lapangan hijau. 16 Timnas bakal unjuk kebolehan untuk mendapatkan predikat terbaik. Tak kurang dari lima juta bola mania bakal hilir mudik di delapan stadion yang menyelenggarakan pertandingan. Tak mau kecolongan, Swiss menyiagakan 15.000 personel militer serta tenaga keamanan tambahan untuk mengamankan jalannya perlombaan. Semua akses masuk stadion dilakukan sistem penjagaan ketat. Maka jangan harap bagi suporter membawa barang berbahaya ke stadion. Salah satu hal yang menarik adalah tersedianya penjara darurat yang dipasang di sekurangnya lima kota. Trauma bayang-bayang kerusuhan hooligan tampaknya diantisipasi secara serius oleh pihak keamanan. Lantas bagaimana mereka yang tak kebagian tiket, jangan khawatir panitia menyediakan kantong-kantong fan zone yang dilengkapi layar lebar. Meski jauh dipisahkan jarak, Indonesia pun tak ketinggalan menyambut kedatangan salah satu momen tersebut. Hampir seluruh media tertuju untuk memberikan ulasan informasi kepada masyarakat. Tak hanya media elektronik, media cetak juga tak mau tertinggal. Mulai dari lembaran khusus Euro 2008 hingga pemberian jadwal sepakbola pun disajikan sebagai bonus bagi para pembaca setia. Seloroh pun mengemuka di obrolan pinggir jalan, Euro 2008 yang digelar di Swiss dan Austria ini bisa jadi obat stres masyarakat di Tanah Air. Bagaimana tidak, di tengah impitan ekonomi yang makin meninggi, suhu perpolitikan yang juga naik turun hingga potensi konflik sesama anak bangsa, kita jelas butuh hiburan. Tak heran jika gelaran sepakbola sekelas Euro 2008 dianggap menjadi salah satu pelipur lara sebagian warga di negeri ini. Khusus bagi atmosfer persepakbolaan dalam negeri, ajang Euro 2008 tentu bisa jadi sebuah pembelajaran. Sekarang diakui atau tidak, PSSI sebagai induk organisasi sepakbola terbesar di Indonesia pun masih jauh dari sempurna. Sistem kompetisi di negeri ini jelas membutuhkan evaluasi berkelanjutan. Tak hanya soal sistem, keberadaan sumber daya manusia dalam organisasi PSSI pun harus mendapatkan perhatian. Pola pikir masyarakat kini sudah makin dewasa, mereka akan sangat kritis ketika melihat dunia persepakbolaan kita jalan di tempat. PSSI tentu jangan alergi kritik, karena dari kritik dan saran itu bisa dicari solusi serta upaya terbaik ke depan. Toh kini suporter Indonesia pun bisa diajak lebih bijak dengan menyampaikan pendapat. Secara berkesinambungan kualitas sistem juga harus disejajarkan dengan kualitas sumber daya manusia yang menggerakkan di dalamnya. Bagi para pengambil keputusan di pusat, belum ada kata terlambat untuk melakukan perbaikan dan pembenahan. Sistem kompetisi, infrastruktur, visi misi fair play, kepemimpinan wasit hingga kedewasaan sikap suporter adalah pekerjaan rumah serius yang perlu dicari solusinya. Semoga Euro 2008 ini tak hanya sekadar sebagai obat penghilang lelah yang berlalu tanpa makna. |
Energi alternatif jangan hanya mimpi Juni 11, 2008
Posted by gunturac in Tajuk.1 comment so far
| |
| www.solopos.net
Krisis energi menghantui dunia termasuk Indonesia. Manusia mulai berhitung dan membayangkan petaka yang akan terjadi ketika cadangan minyak bumi benar-benar habis. |
| Sulit dibayangkan ketika bumi tidak bisa lagi menyuplai kebutuhan energi dalam hal ini bahan bakar minyak (BBM). Hal ini disebabkan sektor-sektor vital seperti pembangkit listrik sebagian besar masih mengandalkan BBM. Alternatif energi nuklir masih diperdebatkan lantaran faktor keamanan yang sangat riskan. Negara-negara berkembang akan menjadi korban pertama ketika harga terus mengalami lonjakan seperti saat ini. Negara berkembang belum siap alih teknologi dengan mengandalkan bahan bakar alternatif. Ekonomi juga akan semakin karut-marut karena devisa negara harus terus-menerus menyuplai kebutuhan untuk membeli minyak yang mahal. Situasi itu juga terasa di Indonesia, di mana perkiraan angka-angka di APBN terhadap harga minyak dunia selalu meleset. Harga minyak dunia terus melejit di atas asumsi APBN. Konsumsi BBM pun sulit ditekan dalam rangka penghematan. Kampanye penghematan juga tak bisa menurunkan tingkat konsumsi BBM. Beberapa hari lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Menristek Kusmayanto Kadiman menantang para pakar di bidang energi untuk mencari dan menemukan sumber-sumber energi baru guna menggantikan sumber energi yang berasal dari fosil. Presiden memberikan waktu selama dua pekan kepada para ilmuwan untuk menyiapkan konsep pengembangan energi baru itu. Pernyataan Presiden itu bisa ditafsirkan sebagai langkah strategis dalam rangka mengatasi krisis energi yang tengah terjadi. Tapi di sisi lain hal itu sebagai sesuatu yang terlambat. Kendati begitu, tidak masalah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kita perlu mengkritiki lebih jauh tentang pernyataan tersebut. Mengapa? Selama ini sebenarnya sudah ada putera-putera bangsa yang menunjukkan kreativitas untuk melakukan rekayasa energi (bahan bakar) alternatif. Minyak jarak misalnya, bukankah itu sudah bisa menjadi jawaban atas krisis BBM? Kita bisa membayangkan, lahan di negeri ini masih cukup luas untuk menanam bibit jarak, namun ternyata Pemerintah hanya setengah-setengah. Kalau memang serius mestinya pemerintah mengalokasikan anggaran jangka panjang di sektor energi untuk budi daya tanaman jarak. Selain itu, investasikan juga industri pengolahan yang sekiranya mampu memproduksi minyak jarak setara dengan kebutuhan konsumsi BBM masyarakat. Kalau hal itu jalan, BBM tak lagi menjadi problem pelik seperti sekarang. Kita melihat masih banyak hal yang harus disiapkan pemerintah ketika nantinya para ilmuwan benar-benar memberikan konsep tentang energi terbarukan. Siapkah pemerintah ketika nanti balik ditantang agar mengaplikasikan secara komprehensif konsep dari para ilmuwan? Tentu pemerintah tidak akan serta-merta bisa melayani tantangan ilmuwan itu. Konkretnya ketika muncul bahan bakar alternatif tentu akan ”berhadapan” dengan Pertamina. Apakah mungkin BUMN yang menjadi sektor andalan pemerintah itu dikerdilkan sementara sektor baru berupa produksi bahan bakar alternatif dijadikan prioritas. Di sinilah keseriusan Pemerintah diuji. Semoga Presiden bisa konsisten dengan berani mencurahkan segala potensi bangsa untuk menciptakan energi alternatif menggantikan BBM. Jangan hanya mimpi membuat konsep spektakuler tapi realisasinya setengah-setengah. – |

