Cuma rekaman Juni 24, 2008
Posted by gunturac in Cerita Lucu.1 comment so far
| |
| www.solopos.net
Jon Koplo yang tinggal di Solo ini termasuk angkatan 45 karena termasuk salah seorang saksi sejarah kemerdekaan RI. Ia punya dua anak perempuan, Lady Cempluk yang sudah menikah dengan seorang pengusaha sukses di Solo, dan Gendhuk Nicole yang masih kuliah di Amerika. |
| Nah, suatu hari Koplo kangen berat dengan Nicole. Ia minta Cempluk untuk menelepon. ”Kalau nelpon sekarang ya nggak bakal diangkat, Pak. Sekarang di Amerika baru jam satu malam. Adik sudah bobok,” terang Cempluk. ”Mpun, mangke dalu kula tilpune,” tambahnya. Malam harinya Cempluk mencoba ngebal-ngebel adiknya, tapi HP-nya tidak aktif. Sejam kemudian justru adiknyalah yang ngebel Cempluk. Sayangnya Koplo sudah keburu tidur. ”Nilpon aku Mbak? Sori, aku lagi kuliah, HP-ne ora tak aktifke. Ngapa ta Mbak?” tanya Nicole. ”Ora papa kok Nic. Bapak kangen, mau pingin krungu suaramu, ning saiki wis sare,” jawab Cempluk. Tiba-tiba Nicole punya ide. ”Ngene wae Mbak. Daripada kakehan pulsa, rekamen wae suaraku neng HP-mu, ben isa ngobati kangene Bapak,” usul Nicole. Maka mulailah Cempluk merekam suara adiknya di HP. Pagi harinya, ”Pak, ini kalau mau dengar suara Adik,” kata Cempluk sambil menyerahkan HP yang rekamannya sudah di-on-kan kepada bapaknya. ”Dalem Pak… niki Nicole…” terdengar suara di HP. ”Ndhuk, piye kabarmu?” tanya Koplo. ”Kabar Nicole sae-sae kemawon kok Pak. Kabar Bapak kadospundi?” lanjut suara rekaman tadi. ”Kabar Bapakmu apik-apik wae Ndhuk,” jawab Koplo. Lady Cempluk terlihat mesam-mesem ngampet guyu melihat tingkah bapaknya tersebut. ”Sampun nggih Pak, kula ajeng kuliah malih. Nyuwun donganipun…” pamit Nicole. ”Lho, Ndhuk, Bapak rung rampung ngomonge. Aja dipedhot dhisik,” pinta Koplo tapi suara rekaman Nicole telanjur habis. ”Halooo… halooo…!” Koplo mencoba menghubungi anaknya lagi. ”Piye ta adhimu kuwi… Wong kangene Bapak durung entek kok wis dipedhot,” wadul Koplo. ”Dik Nicole mau kuliah Pak, barangkali dosennya sudah datang,” jawab Cempluk enteng. Jon Koplo cuma kethap-kethip sajak gela. Ia tidak tahu kalau sedari tadi itu cuma omong-omongan dengan rekaman. – Kiriman Abdus Shomad, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Surakarta. |
Jon ngepluk Juni 12, 2008
Posted by gunturac in Cerita Lucu.2 comments
| |
| www.solopos.net
Malam itu Lady Cempluk, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di sebuah kompleks perumahan di Wonogiri bermaksud menghadiri acara pengajian di rumah tetangga. |
| Karena suaminya sedang bertugas di luar kota dan di rumah hanya ada Jon Koplo, anak sematawayangnya yang masih kelas enam SD, maka Cempluk terpaksa membawa kunci serep. Dengan alasan, kalau pulangnya sudah larut malam ia tak perlu membangunkan anaknya untuk membukakan pintu. ”Le, pintunya nggak usah dikunci dari dalam. Ibu sudah bawa kunci sendiri. Nanti kalau sudah ngantuk, tidur saja di kamar,” pesan Cempluk pada anaknya saat berpamitan. Pada saat itu Jon Koplo baru pulang dari les dan bersantai di depan televisi. Mungkin karena saking capek dan ngantuk-nya, tanpa sadar Koplo segera menuju ke pintu dan menguncinya. Bahkan pakai digerendel segala. Singkat cerita, acara pengajian pun selesai. Namun setelah sampai di rumah, Cempluk mendapati pintu depan sudah terkunci rapat. Cempluk pun bengak-bengok sambil mengetuk-ngetuk pintu. ”Le, ibu kondur, bukaken lawange…!” teriak Cempluk memecah kesunyian malam. Tidak ada reaksi dari dalam. Yang keluar malah para tetangga karena kebrebegen teriakan Cempluk. Mendengar suasana makin ramai dan kacau, semakin banyak pula tetangga datang untuk melihat apa yang terjadi. Gendhuk Nicole, tetangga depan rumah yang berusaha membangunkan lewat dering telepon rumah pun tidak berhasil, bahkan Koplo tambah ngepluk alias tak bangun-bangun. Itu bisa dilihat dari luar lewat korden yang masih terbuka. Ketika warga separuh blok sudah ikut membangunkan dan hampir putus asa, ndilalah salah satu tetangganya yang bernama Tom Gembus punya ide. Ia mengambil segulung tali rafia dan memotong ranting daun rambutan. Dengan dibantu beberapa warga, ranting yang diikat tali rafia itu dimasukkan lewat lubang angin-angin, lalu diarahkan ke kepala Koplo sambil digoyang-goyang. Akhirnya Jon Koplo terbangun juga. Lucunya, dalam keadaan hayub-hayuben Koplo bukannya membukakan pintu melainkan malah mau masuk ke kamar. Karuan saja Cempluk dan para tetangganya pada pating brengok minta dibukakan pintu sambil dhodhog-dhodhog gayeng banget. Nah, saat itulah Jon Koplo baru ngeh, kalau ia tadi ketiduran dan lupa pesan ibunya. Begitu pintu terbuka, maka bubarlah kerumunan tetangga sambil masih menahan tawa. Oalah Plo… Plo! |
Tiwas antre… Juni 11, 2008
Posted by gunturac in Cerita Lucu.2 comments
| www.solopos.net |
|
Masa aktif STNK motor yang tiap hari digunakan Lady Cempluk untuk wira-wiri ke kampus hampir habis di bulan April. Itu artinya ia harus segera membayar pajak motornya. |
| Namun karena setiap hari selalu sibuk, ia pun berinisiatif meminta tolong Jon Koplo, tetangganya, untuk pergi ke Kantor Samsat Solo karena kebetulan saat itu Koplo juga lagi nganggur. ”Ini Mas, BPKB, STNK, KTP komplet sak fotokopiannya. Ini uang untuk perpanjangan dan uang bensin. Nanti kalau kurang sampeyan talangi dulu,” pesan Cempluk pada Koplo yang hanya nggah-nggih nggah-nggih saja. Pagi-pagi sekali Koplo berangkat. Maklum, ini adalah kali pertama ia pergi ke Samsat. ”Walah, jebul sing teka wis sak ndhayak,” gumun Koplo yang melihat antrean sudah lumayan banyak. Ia pun segera tanya di bagian informasi dan mendapat penjelasan teknis bagaimana cara perpanjangan STNK. Ibu petugas yang baik hati itu bahkan membantu mempersiapkan berkas-berkas yang akan ditumpuk. Semakin siang antrean semakin panjang. Satu persatu orang dipanggil dan maju untuk menerima formulir yang mencantumkan besarnya pajak. ”Bapak Tom Gembus, Pajang…?!” teriak petugas loket memanggil salah satu pengantre. ”Bapak Tom Gembus… Dari Pajang…?” teriaknya lagi, kali ini lebih keras. Namun tak ada yang beranjak. Sementara Jon Koplo yang merasa tidak dipanggil malah asyik membaca artikel yang tertempel di dinding. Setelah merasa sudah lama menunggu tidak dipanggil, Koplo merasa gerah dan mulai bosan. Kasir masih memanggil satu per satu antrean. Lagi-lagi nama Tom Gembus dipanggil. Namun tidak juga ada yang maju. Merasa sudah tidak tahan dan tidak puas dengan pelayanan, Koplo segera melayangkan protes pada Pak Polisi. ”Pak, saya sudah antre satu jam kok belum juga dipanggil? Tadi yang belakangan malah sudah dilayani,” tanya Koplo rada mangkel. ”Nama Mas siapa?” tanya Pak Polisi. ”Jon Koplo Pak,” jawab Koplo. ”Boleh lihat BPKB sampeyan?” Koplo segera mengambil BPKB dari dalam jaketnya. Nah, dalam adegan ini Koplo baru ingat kalau BPKB motor milik Cempluk tertulis atas nama bapaknya yaitu Tom Gembus! ”Lho, ini motor atas nama Tom Gembus gitu… Tadi sudah saya panggil berkali-kali kok diam saja? Lha tadi Mas ke mana?” tanya petugas. ”He-he-he… maaf Pak. Tadi saya juga di sini, tapi saya terfokus pada nama saya…” kata Koplo kisinan. Sementara orang-orang di sekelilingnya pada tersenyum melihat ke-koplo-annya. |
Kloset gedebug Juni 11, 2008
Posted by gunturac in Cerita Lucu.2 comments
| |
| www.solopos.net
Jon Koplo dan Tom Gembus yang asli made in Wonogiri ini adalah dua sahabat karib sejak indhil-indhil sampai ondhol-ondhol. |
| Namun nasib Gembus lebih beruntung, ia bisa sekolah sampai STM dan sekarang bekerja sebagai karyawan sebuah diler sepeda motor terbesar di Kota Bengawan. Sedangkan Koplo yang tamatan SD hanya membantu bapaknya nggarap sawah dan angon wedhus. Saat pulang kampung, Gembus menawari Koplo menginap di rumah kontrakannya di Solo. ”Syukur-syukur kamu dapat kerjaan yang lebih baik daripada angon wedhus Plo. Lumayan lho gaji kerja di kota,” bujuk Gembus. Koplo pun cuma oka-oke saja. Singkat cerita, Koplo ikut Gembus ke Solo. Namanya saja orang nggak pernah lihat yang namanya kota, di sepanjang jalan Koplo cuma ndlongop melihat kondisi Kota Solo yang bagi dia sangat nggumunke. Sampai di rumah kontrakan Gembus, Koplo disambut penghuni rumah dengan ramah. Mereka ngobrol ngalor-ngidul dan kerap terdengar tawa ngakak, menertawakan Jon Koplo yang kematrok-katrok. Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba Koplo merasakan ada panggilan alam. Ia pun minta diberitahu di mana kamar mandinya. Rasa gumun Jon Koplo pun muncul lagi tatkala melihat isi kamar mandi. Kebetulan rumah yang dikontrak Tom Gembus itu kamar mandinya sudah didesain modern ala barat. Apalagi melihat klosetnya. ”Lho kok dhuwur tenan WC-ne?” batin Koplo. Karena sudah kebelet, Koplo pun naik ke kloset dengan hati-hati, takut kalau kepleset. Setelah siap dalam posisi methongkrong ia berusaha meraih cidhuk yang ada di dalam ember, namun apa daya tangan tak sampai. Dengan susah payah tangan Koplo meraih cidhuk. Saat hampir menyentuk cidhuk, tiba-tiba mak gedebug… Koplo pun jatuh dengan suksesnya hingga mencium lantai. Mendengar suara mak gedebug dan disusul rintihan kesakitan dari arah kamar mandi, Tom Gembus dan teman-teman langsung berlarian menuju kesana. ”Mbus, WC-mu kok medeni banget ta, aku nganti ngguling, lha dhuwur banget,” kata Jon Koplo polos sambil pringas-pringis menahan sakit. Kontan saja Tom Gembus dan kawan-kawan tertawa ngakak. ”Oalah Plo… Plo. Ini bukan WC kayak di rumahmu yang model jongkok itu. Ini namanya kloset model duduk. Jadi nggak usah nangkring-nangkring,” jelas Gembus sambil terus ngakak. Sedangkan Koplo cuma melongo. Dalam hatinya berkata, ”Wis, aku ora bakal nginep kene meneh…!” |
Jaka Tingkir kapusan Juni 11, 2008
Posted by gunturac in Cerita Lucu.2 comments
| www.solopos.net
Ada cerita menarik yang tercecer dari bencana banjir bandang yang melanda Kota Bengawan Desember 2007 silam. |
| Waktu itu semua warga di kampung Pucangsawit, termasuk Jon Koplo pada mengungsi karena ketinggian air hampir sedada orang dewasa. Namun meski sudah berada di Posko pengungsian, Koplo merasa waswas dengan keadaan kampungnya karena ada kabar banyak terjadi pencurian dan penjarahan rumah kosong dalam keadaan gelap gulita saat ditinggal mengungsi. Apalagi Koplo cs baru saja menemukan seekor ular sanca yang nyasar ke kempungnya. Bahkan sempat terdengar gosip bahwa sebagian binatang di Taman Satwa Taru Jurug ada yang terlepas sehingga menambah ketir-ketir warga. Demi menjaga keamanan kampung, Jon Koplo mengajak Tom Gembus dan warga RT yang lain untuk berpatroli bersama dengan membawa senter dan bambu runcing. Disaat mereka berpatroli dengan menyenteri rumah-rumah warga, tiba-tiba Tom Gembus njawil Jon Koplo, sambil menunjuk ke suatu tempat. Di tengah keremangan lampu senter, Koplo melihat sosok buaya kecil kompal-kampul di dekat rumahnya. Kemudian Koplo memberi isyarat kepada rombongan untuk mendekati. ”Hati-hati Pak Koplo, siapa tahu buayanya nunggu emboke apa bapake,” bisik Gembus keweden. ”Tenang dan jangan gegabah. Siapkan bambu runcing, biar aku yang mancing biar buayanya mendekat!” komando Koplo sajak gagah kaya Jaka Tingkir ngana kae, padahal dalam hati ia deg-degan ora karuan. Kemudian adegan perang dengan buaya pun dimulai dengan pukulan dibarengi teriakan pating jlerit dari mulut bapak-bapak. Mereka bangga berani bertempur dengan buaya. Tapi anehnya, buaya kecil tadi tetap cool tanpa melakukan perlawanan apa-apa. Meskipun digebuki, disuduk dan diamuk wong sak RT, si buaya tetep aja cuek dan pasrah. Bahkan terakhir posisinya jadi mlumah lama banget. ”Sajake bayane wis klenger Pak Gembus,” ujar Koplo. Bapak-bapak yang lain penasaran dan mendekati buaya tadi. Namun apa yang terjadi Saudara-saudara? Setelah diamat-amati mereka pada tertawa ger-geran karena yang mereka keroyok mati-matian tadi bukan buaya beneran melainkan boneka buaya yang terhanyut akibat banjir. ”Oalah, mulakna diapak-apakke pasrah wae, lha wong baya kapuk,” begitu komentar bapak-bapak sambil kemekelen. |

